November 18, 2012

Kuasai Dan Milikilah Ilmu

            Disuatu hari yang cerah, Abu Hurairah, salah satu sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah Saw, berjalan melintasi sebuah pasar yang ada di kota Madinah. Nampak sekali suasana pasar yang begitu ramainya, beberapa orang terlihat sibuk menjajakan barang dagangannya, sedang yang lain berjalan kesana-kemari mencari barang yang diinginkannya.
            Melihat pemandangan itu, sahabat yang sangat bersahaja ini tersenyum. Lalu, ia pun menghampiri sekelompok orang dan berkata,”Saudaraku, alangkah sibuknya kalian.” Beberapa orang yang mengenal dan mendengar sapaan Abu Hurairah segera menoleh, membalas sapaan Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah, bagaimana pendapatmu tentang kesibukan kami ini?.”
            “Sayang sekali kalian ramai-ramai berada disini, padahal sekarang Rasulullah sedang membagikan harta karun yang paling berharga. Mengapa kalian tidak ingin ikut mengambilnya?” jawab Abu Hurairah.
            Sontak pernyataan Abu Hurairah pun membuat beberapa orang kaget. Rasa penasaran mereka pun timbul, “Dimana wahai Abu Hurairah,?” tanya mereka.
            “Di sana, di masjid,” jawab Abu Hurairah sambil menunjuk ke satu arah.
            Mereka merasa tertarik dengan informasi Abu Hurairah itu, dengan segera beberapa orang meninggalkan pasar dan berjalan menuju arah yang ditunjukkan Abu Hurairah. Sementara itu, Abu Hurairah sendiri tetap berdiri di tempatnya, menunggu orang-orang itu kembali.
            Benar juga, tidak berapa lama, beberapa orang yang tadi pergi sudah kembali lagi ke pasar menemui Abu Hurairah. Terlihat sekali raut kekecewaan di wajah mereka.”Wahai Abu Hurairah, kami datang ke masjid, tapi kami tidak melihat ada sesuatu yang dibagikan Rasulullah,” ujar mereka.
            Lantas, Abu Hurairah bertanya,” Apa kalian tidak melihat orang banyak?”.
            “Ya, kami melihat banyak orang di masjid. Ada yang sedang shalat, dan ada pula yang sedang membaca Al-quran.” Jawab mereka.
            “Apakah kalian tidak melihat kerumunan orang yang mengelilingi Rasulullah?”, tanya Abu Hurairah.
            “Ya, kami melihat mereka. Tapi kami tidak melihat Rasulullah sedang membagikan harta karunnya.” Jawab mereka.
            Mendengar jawaban itu, Abu Hurairah pun tersenyum, lalu berkata,” Wahai saudaraku, kalian tahu, orang itu sedang duduk mengitari Rasulullah yang sedang membagikan harta yang tak ternilai harganya, yaitu Rasulullah sedang membagi-bagikan ilmunya kepada mereka. Bukankah ilmu adalah harta yang sangat mahal?,”
            Lantas, Orang-orang itu hanya terdiam mendengar pemaparan Abu Hurairah. Mereka tidak marah, lantaran apa yang dipaparkan oleh Abu Hurairah benar adanya.
            Itulah sekilas kisah tentang betapa berharganya ilmu dari pada harta. Ilmu itu tak ternilai harganya. Begitulah ilmu, betapa berharganya dan pentingnya untuk terus kita pelajari. Seperti sebuah perkataan berikut ini :
Pelajarilah ilmu, sebab dengan ilmu akan menimbulkan rasa takut kepada Allah Swt. Mempelajari ilmu pengetahuan termasuk ibadah, menelaahnya dianggap membaca tasbih, membahasnya setara dengan takbir, mengajarkannya kepada orang bodoh dihitung sedekah, dan mendiskusikannya kepada para pakar dianggap sebagai suatu bentuk kedekatan kepada Allah”
-         Muadz bin Jabal  -

Dikutip dari buku ”The Islamic Golden Rules” karya Laode M. Kamaluddin & A. Mujib El Shirazy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar