April 18, 2014

SURFAKTAN

A. Pengertian dan Sifat Surfaktan
Surfaktan adalah suatu zat yang mempunyai kemampuan untuk menurunkan tegangan permukaan (surface tension) suatu medium dan menurunkan tegangan antarmuka (interfacial tension) antar dua fase yang berbeda derajat polaritasnya. Istilah antarmuka menunjuk pada sisi antara dua fase yang tidak saling melarutkan, sedangkan istilah permukaan menunjuk pada antarmuka dimana salah satu fasenya berupa udara (gas) (Rosen 2004).

Struktur surfaktan dapat digambarkan seperti berudu yang memiliki kepala dan ekor. Bagian kepala pada surfaktan bersifat hidrofilik atau polar dan kompatibel dengan air, sedangkan bagian ekor bersifat hidrofobik atau non-polar dan lebih tertarik ke minyak/lemak. Bagian kepala pada surfaktan ini dapat bersifat anionik, kationik, amfoterik atau nonionik, sedangkan bagian ekor dapat berupa hidrokarbon rantai linier atau cabang. Konfigurasi kepala-ekor tersebut membuat surfaktan memiliki fungsi yang beragam di industri (Hui 1996; Hasenhuettl 1997).

B. Klasifikasi Surfaktan
                Berdasarkan muatan ion pada gugus hidrofiliknya, surfaktan dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu surfaktan anionik, kationik, amfoterik dan nonionik.
a. Surfaktan Anionik
Surfaktan anionik bermuatan negatif pada bagian hidrofiliknya. Aplikasi utama dari surfaktan anionik yaitu untuk deterjensi, pembusaan dan emulsifier pada produk-produk perawatan diri (personal care product), detergen dan sabun. Kelemahan surfaktan anionik adalah sensitif terhadap adanya mineral dan perubahan PH. Contoh surfaktan anionik, yaitu linier alkilbenzen sulfonat, alkohol sulfat, alkohol eter sulfat, metil ester sulfonal (MES), fatty alkohol eter fosfat.

b. Surfaktan Kationik
Surfaktan kationik bermuatan positif pada bagian hidrofiliknya. Surfaktan kationik banyak digunakan sebagai bahan antikorosi, antistatik, flotation collector, pelunak kain, kondisioner, dan bakterisida. Kelemahan surfaktan jenis ini adalah tidak memiliki kemampuan deterjensi bila diformulasikan ke dalam larutan alkali. Contoh surfaktan kationik, yaitu fatty amina, fatty amidoamina, fatty diamina, fatty amina oksida, tertiari amina etoksilat, dimetil alkil amina dan dialkil metil amina.

c. Surfaktan Nonionik
Surfaktan nonionik tidak memiliki muatan, tetapi mengandung grup yang memiliki afinitas tinggi terhadap air yang disebabkan adanya interaksi kuat dipol-dipol yang timbul akibat ikatan hidrogen. Aplikasi surfaktan nonionik umumnya pada detergen untuk suhu rendah dan sebagai emulsifier. Keunggulan surfaktan ini adalah tidak terpengaruh oleh adanya air sadah dan perubahan pH. Contoh surfaktan nonionik adalah dietanolamida, alkohol etoksilat, sukrosa ester, fatty alkohol poliglikol eter, gliserol monostearat, sukrosa distearat, sorbitan monostearat, sorbitan monooleat, gliserol monooleat dan propilen glikol monostearat.

d. Surfaktan Amfoterik
Surfaktan amfoterik memiliki gugus positif dan negatif pada molekul yang sama sehingga rantai hidrofobik diikat oleh bagian hidrofilik yang mengandung gugus positif dan negatif. Surfaktan amfoterik sangat dipengaruhi oleh perubahan pH, dimana pada pH rendah berubah menjadi surfaktan kationik dan pada pH tinggi akan berubah menjadi surfaktan anionik. Surfaktan jenis ini umumnya diaplikasikan pada produk sampo dan kosmetik. Contohnya adalah fosfatidilkolin (PC), fosfatidiletanolamina (PE), lesitin, asam aminokarboksilat dan alkil betain.

C. Karakteristik Surfaktan
1. HLB (Hydrophile-Lipophile Balance)
HLB merupakan suatu parameter untuk mengkorelasikan secara kuantitatif struktur surfaktan dengan aktifitas permukaannya. Secara formal, harga HLB diberikan dalam kisaran skala 0-20. Semakin tinggi nilai HLB menunjukkan surfaktan makin bersifat hidrofilik sehingga lebih mudah larut dalam air dan pada umumnya digunakan sebagai bahan pelarut (solubilizing agents) yang baik, detergen, dan penstabil untuk emulsi O/W. Sementara bila nilai HLB semakin rendah menunjukkan kelarutan dalam air yang rendah sehingga sering digunakan sebagai pelarut air dalam minyak dan penstabil emulsi W/O yang baik (Myers 2006).
2. Tegangan Permukaan
Tegangan permukaan dirumuskan sebagai energi yang dibutuhkan untuk memperbesar permukaan suatu cairan sebesar 1 cm2. Tegangan permukaan disebabkan oleh adanya gaya tarik-menarik dari molekul cairan. Semakin besar ikatan antar molekul-molekul dalam cairan, semakin besar tegangan permukaannya (Bodner dan Pardue 1989).
Surfaktan dapat diserap pada permukaan atau antarmuka dengan bagian hidrofiliknya berorientasi pada fase yang lebih rendah viskositasnya dan bagian hidrofobiknya berorientasi pada uap atau fase yang kurang polar. Berbagai jenis surfaktan memiliki kemampuan yang berbeda untuk mengurangi tegangan permukaan atau tegangan antarmuka karena struktur kimia yang berbeda.

3. Tegangan Antarmuka
Tegangan antarmuka adalah gaya persatuan panjang yang terjadi pada antarmuka dua fase cair yang tidak dapat bercampur. Surfaktan berfungsi sebagai senyawa aktif yang dapat digunakan untuk menurunkan energi antarmuka yang membatasi dua cairan yang tidak saling larut. Kemampuan ini disebabkan oleh gugus hidrofilik dan hidrofobik yang dimilki oleh surfaktan. Surfaktan akan menurunkan gaya kohesi dan sebaliknya meningkatkan gaya adhesi sehingga dapat menurunkan tegangan antarmuka (Matheson 1996). Tegangan antarmuka sebanding dengan tegangan permukaan, tetapi nilai tegangan antarmuka akan selalu lebih kecil daripada tegangan permukaan pada konsentrasi yang sama (Moecthar 1989).

4. Kemampuan Pembusaan
Kebanyakan surfaktan dalam larutan dapat membentuk busa, baik diinginkan maupun tidak diinginkan dalam penggunaanya. Kestabilan busa diperoleh dari adanya zat pembusa (surfaktan). Zat pembusa ini teradsorpsi ke daerah antarfase dan mengikat gelembung-gelembung gas sehingga diperoleh suatu kestabilan (Ware et al. 2007). Kemampuan pembusaan surfaktan dipengaruhi oleh panjang rantai hidrokarbon. Dibandingkan dengan surfaktan anionik sebagai agen pembusa yang telah lama digunakan, surfaktan nonionik dianggap sebagai surfaktan yang memiliki kemapuan pembusaan yang lebih rendah.

5. Stabilitas Emulsi
Stabilitas emulsi merupakan keseimbangan antara gaya tarik-menarik dan gaya tolak-menolak yang terjadi antar partikel dalam sistem emulsi. Jika kedua gaya tersebut dipertahankan tetap seimbang, maka partikel-partikel dalam sistem emulsi akan dapat dipertahankan untuk tidak bergabung. Mekanisme kerja dari surfaktan untuk menstabilkan emulsi yaitu dengan menurunkan tegangan permukaan dan membentuk lapisan pelindung yang menyelimuti globula fase terdispersi sehingga senyawa yang tidak larut akan lebih mudah terdispersi dalam sistem dan menjadi stabil. Gugus hidrofilik dan lipofilik yang dimiliki surfaktan dapat membentuk lapisan film pada bagian antarmuka dua cairan yang berbeda fase. Adanya dua gugus tersebut pada emulsifier memungkinkan emulsifier membentuk selaput tipis atau disebut juga dengan lapisan film, disekeliling globula-globula fase terdispersi dan bagian luarnya berikatan dengan medium pendispersi (Suryani et al. 2000). Pembentukan film tersebut mengakibatkan turunnya tegangan permukaan kedua cairan yang berbeda fase tersebut sehingga mengakibatkan turunnya tegangan antarmuka.

6. pH
Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu karakteristik surfaktan. Setiap jenis surfaktan memiliki pH yang berbeda-beda, misalnya saja pH dari surfaktan dietanolamida berkisar antara 9 dan 10. Dalam penggunaan surfaktan, pH perlu diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap aktivitas surfaktan tersebut meskipun ada sebagian jenis surfaktan yang tidak dipengaruhi oleh perubahan pH.

Oktober 01, 2013

Biobriket dari Bungkil Jarak Pagar


Bungkil jarak merupakan produk samping dari ekstraksi minyak jarak. Seiring dengan gema pengembangan bahan bakar nabati (BBN) dari minyak jarak, salah satu hal yang perlu diantisipasi adalah bagaimana mengolah limbah bungkil yang akan dihasilkan.

Buah jarak memiliki berat rata-rata 2,1 g dengan berat biji sekitar 0,53- 0,86 g. Rasio biji dengan bagian lain berkisar 70:30 (w/w), karena dalam satu buah rata-rata terdapat tiga biji. Rasio antara daging biji (kernel) dan kulit biji (shell) berkisar 60:40 (w/w) (Makkar et al. 1997). Karakteristik fisik buah jarak pagar dari beberapa varietas dapat dilihat pada tabel berikut.

Jika produksi biji jarak 7,5-10 ton/ha/tahun, maka diperoleh kulit buah sekitar 3,21-4,28 ton , kulit biji 3-4 ton dan bungkil biji sekitar 5,25-7 ton sehingga total yang dihasilkan 11,46-15,28 ton limbah untuk menghasilkan 2-2,5 ton minyak jarak.  Presentase limbah yang cukup besar ini tentunya memerlukan pengolahan yang tepat.

Salah satu bentuk pemanfaatan limbah bungkil jarak pagar yang paling tepat adalah mengolahnya menjadi biobriket. Disamping dapat mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan, pengolahan menjadi biobriket juga dapat membantu pemerintah dalam mengatasi kelangkaan energi karena biobriket merupakan salah satu bentuk energi alternatif pengganti minyak tanah dan gas.

Bungkil jarak sangat baik untuk dijadikan bahan baku biobriket. Sebagai limbah pengepresan, bungkil jarak masih mengandung minyak dalam jumlah kecil. Proses pembuatan biobriket dari bungkil jarak ini pun sangat mudah dan sederhana, seperti halnya pembuatan briket lainnya. Dengan demikian, selain dapat memberikan nilai tambah yang lebih pada limbah jarak, pembuatan biobriket ini juga dapat dijadikan sebagai alternatif bahan bakar yang lebih murah dan mudah sebagai pengganti minyak tanah dan gas.


September 29, 2013

BIOGAS


Biogas didefinisakn sebagai gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik (seperti kotoran ternak, kotoran manusia, jerami, sekam dan daun-daun hasil sortiran sayur) difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Biogas terdiri dari campuran metana (50-75%), CO2 (25-45%), serta sejumlah kecil H2, N2, dan H2S.

Dalam aplikasinya, biogas digunakan sebagai sebagai gas alternatif untuk memanaskan dan menghasilkan energi listrik. Kemampuan biogas sebagai sumber energi sangat tergantung dari jumlah gas metana. Setiap 1m3 metana setara dengan 10 kWh. Nilai ini setara dengan 0,6 L fuel oil.
Sebagai energi alternatif, biogas bersifat ramah lingkungan dan dapat mengurangi efek rumah kaca yang dapat menimbulkan masalah global warming. Pada dasarnya, proses pembuatan sangat sederhana dan mudah. Cara yang paling umum digunakan yaitu fermentasi terhadap bahan-bahan organik secara anaerobik di dalam digester. Dalam pembuatan biogas, terdapat dua macam bakteri yang umum digunakan, yaitu bakteri pembentuk asam dan bakteri pembentuk gas metana. Bkateri pembentuk asam antara lain : pseudomonas, escherichia, flavobacterium, dan alcaligenes. Bakteri-bakteri tersebut akan mendegradasi bahan-bahan organik menjadi asam-asam lemah. Selanjutnya, asam-asam tersebut didegradasi menjadi gas metana oleh bakteri pembentuk gas metana seperti methanobacterium, methanosarcina, dan methanococcus.

Penguraian bahan-bahan organik menjadi biogas melalui tiga proses utama, yaitu hidrolisis, asidifikasi dan metanisasi/fermentasi. Pada tahap hidrolisis terjadi penguraian senyawa rantai panjang (seperti lemak, protein dan karbohidrat) menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Kemudian, pada tahap asidifikasi terjadi proses pembentukan asam-asam organik dan pertumbuhan atau perkembangan sel bakteri. Setelah itu, pada tahap metanisasi/ fermentasi terjadi perkembangan sel mikroorganisme yang menghasilkan gas metana sebagai komponen utama biogas.

Pada proses pembuatan biogas, kondisi operasi juga perlu diperhatikan, seperti temperatur, pH, pengadukan dan bahan-bahan penghambat. Perkembangbiakan bakteri sangat dipengaruhi oleh temperatur. Pencernaan anaerobik dapat berlangsung pada kisaran suhu 50C-550C. Adapun temperatur optimum untuk menghasilkan biogas adalah 350C.

Sumber : Hambali, E et al. 2007. Teknologi Bioenergi. Jakarta : AgroMedia Pustaka

September 19, 2013

Potensi Industri Karet Indonesia




JAKARTA - Potensi penggembangan serta memaksimalkan produksi industri karet masih terbuka lebar mengingat produktivitas di Indonesia baru mencapai satu ton per hektar.

"Malaysia sudah memproduksi 1,3 ton per hektare, Thailand 1,9 ton per hektare, sementara kita baru satu ton yang jelas lebih rendah dari mereka," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat, saat membuka Pameran Produk Karet dan Plastik di Jakarta, Selasa.

Hidayat mengatakan, Indonesia memiliki areal karet paling luas di dunia yakni sebesar 3,4 juta hektar yang sebagian besar merupakan milik rakyat dengan produksi karet per tahun mencapai 2,7 juta ton.

Dalam pameran tersebut diikuti oleh 17 perusahaan produk karet, 25 perusahaan produk plastik, serta 3 Balai Penelitian yaitu Balai Besar Kulit dan Plastik (BBKKP) Jogja, Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Bandung serta Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) Pasar Rebo.

"Pada sektor industri karet tersebut, tenaga kerja yang diserap dan terkait langsung dengan industri kurang lebih sebanyak 2,1 juta orang," kata Hidayat. Sementara untuk yang tidak terkait langsung dengan industri karet tersebut, lanjut Hidayat, telah menyerap tenaga kerja kurang lebih sebanyak 100 ribu orang. 

"Dengan demikian, hal tersebut merupakan peluang bagi industri karet nasional untuk terus berproduksi maksimal," kata Hidayat.

Meskipun demikian, lanjut Hidayat, masih ada tantangan berupa pembinaan terhadap perkebunan rakyat agar dapat meningkatkan produktivitas.

"Selain itu juga perlu hilirisasi produk 'crumb rubber' dan lateks untuk menjadi produk karet hilir yang bernilai tambah tinggi," ujar Hidayat.

Industri karet dan barang karet di dalam negeri memiliki luas lahan perkebunan karet terluas di dunia dan berdasarkan Kebijakan Industri Nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 28 tahun 2008, Industri karet dan plastik merupakan bagian dari kelompok industri yang diprioritaskan dalam pengembangannya.

(Sumber : Investor.co.id)

Ampas Tebu Bisa Menjadi Bahan Baku Kertas




Surabaya - Pakar manajemen dari Universitas Katholik (Unika) Widya Mandala Surabaya Dr Ir Liliana Dewi MM menyatakan perusahaan kertas PT Pakerin Mojokerto membuktikan bahwa ampas tebu bisa menjadi bahan untuk bubur kertas.

"PT Pakerin merupakan pelopor ampas tebu untuk bahan kertas di Indonesia dan inovasi itu muncul dari karyawan perusahaan yang memiliki 'individual innovation capability' akibat lingkungan kerja perusahaan yang mendukung," katanya di Surabaya, Minggu (1/9).

Doktor yang baru lulus dalam ujian terbuka program doktor ilmu manajemen Unika Widya Mandala Surabaya dengan predikat cumlaude pada Sabtu (31/8) itu menjelaskan pihaknya menemukan korelasi positif antara inovasi karyawan dan lingkungan kerja perusahaan itu.

"Di era global, penggunaan kayu dari hutan hujan tropis tidak diperkenankan karena dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan, karena itu peran inovasi itu penting dan menentukan bagi perusahaan di abad ke-21," kata ibu dari tiga anak itu.

Ia melakukan penelitian tentang individual innovation capability itu dengan data dari Kepala Perwakilan/Wakil Kepala Perwakilan pada 65 unit usaha PT Pakerin Group di Indonesia dengan responden sebanyak 144 kepala perwakilan dan wakil kepala perwakilan.

"Hasil penelitian yang menggunakan program Analysis of Moment Structure (AMOS) sebagai alat analisis itu menunjukkan gagasan inovatif perusahaan itu menggunakan ampas tebu sebagai bahan kertas dan inovasi itu menunjukan pengaruh signifikan Lingkungan Kerja terhadap Individual Innovation Capability," katanya.

Menurut dia, ada dua temuan dalam studi yang dilakukan untuk menumbuhkan performance perusahaan yaitu Entrepreneurship dan Lingkungan Kerja, namun temuan yang dominan dan positif pengaruhnya adalah Lingkungan Kerja.

"Perusahaan dapat survive bila masing-masing individu di dalamnya berjiwa inovatif dan PT Pakerin menunjukkan bahwa lingkungan kerja berdampak signifikan terhadap kemampuan inovasi individual itu," kata mahasiswa pascasarjana yang lulus dalam waktu dua tahun 11 bulan itu.

Tentang lingkungan kerja yang mendukung itu, katanya, antara lain terlihat pada PT Pakerin Group yang pada saat banyak perusahaan ramai-ramai melakukan PHK, namun PT Pakerin Group justru mempertahankan semua karyawannya.

"Hal itu menyebabkan karyawan merasa aman dan muncul loyalitas terhadap perusahaan. Lingkungan kerja yang aman ini meningkatkan kemampuan inovasi individual karyawan, sehingga berpengaruh juga pada peningkatan kinerja perusahaan," katanya.

Ia menambahkan temuannya itu dapat dikembangkan untuk penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi Individual Innovation Capability, namun hasil yang diperoleh dari PT Pakerin itu dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain dan PT Pakerin sendiri dapat meningkatkan pembinaan karyawan dengan hasil penelitian itu.


(Sumber : Metrotvnews.com)

Buah Naga Bisa Menjadi Kosmetik




Meskipun bentuknya aneh, buah naga yang merupakan keluarga cactacea dan tergolong dalam spesies kaktus ini semakin mendapat tempat di kalangan petani modern. Meski permintaan masyarakat di dalam negeri masih sedikit, tapi sebenarnya buah yang banyak dipasok dari Thailand dan Vietnam ini kaya akan khasiat untuk kesehatan manusia yang mengonsumsinya. M Barus yang dengan semangat mengajak MedanBisnis berkeliling kebun buah naga, menceritakan, sesuai literatur yang dibacanya di internet, buah yang berasal dari Costa Rica, El Salvador, Mexico Selatan dan Guatemala ini merupakan jenis tanaman kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus.

Memiliki khasiat bagi kesehatan manusia. Dengan nutrisi yang dibutuhkan tubuh sebagai anti oksidan, penyeimbang gula dalam darah, memperbaiki sistem peredaran darah dan mencegah kanker usus serta dapat mengurangi kolesterol yang tinggi dan mengurangi kadar lemak dalam tubuh.

"Dari pengalaman pribadi, dulu tidak bisa makan daging karena tensi bisa naik, kini setelah sering makan buah naga, tensi saya bisa normal dan tak takut makan daging lagi. Pernah juga sedang menderita flu, saya tidak perlu membeli obat. Cukup dengan makan buah naga, kondisi tubuh bisa kembali fit,” jelasnya bangga.

Dari satu buah naga, diketahui mengandung zat besi untuk menambah darah yaitu vitamin B1 yang dapat mencegah demam. Sedangkan vitamin B2 sebagai penambah selera makan dan vitamin B3 yang berkhasiat menurunkan kadar kolesterol serta vitamin C berguna memperbaiki kulit.

Secara lengkapnya nutrisi yang terkandung di dalamnya antara lain kadar gula, air, karbohidrat, asam, protein, serat, kalsium, fosfor, magnesium dan juga vitamin.

Karena itu, menurutnya, dengan kandungan air yang banyak tersebut, buah naga dapat dikonsumsi sebagai penghilang rasa dahaga. Rasanya yang manis, menurutnya, cocok untuk dijadikan jus, selai, sari buah, dan lainnya. "Tapi kalau saya pribadi lebih suka dimakan langsung karena lebih terasa alaminya," kata Leon Nahak, seorang perantau berasal dari Kupang, NTT yang sudah 11 tahun tinggal di Medan.

Di kebun seluas 1 hektare ia biasa menghabiskan waktu dari pagi hingga sore. "Buah ini bisa dikonsumsi setiap hari, ini mungkin karena buah naga belum begitu populer di semua kalangan," katanya.

Buah yang pada awalnya hanya dijadikan tanaman hias oleh masyarakat Vietnam ini, juga berkhasiat untuk menyembuhkan rematik, menguatkan tulang dan ginjal. "Dari warna dagingnya yang merah ini dapat menyembuhkan maupun mencegah penyakit datang," ucapnya menambahi.

"Buah naga ini memiliki kadar nutrisi paling lengkap untuk kesehatan tubuh yang dapat memperlancar metabolisme, tapi belum begitu memasyarakat," lanjutnya sambil memetik buah naga merah yang siap untuk disantap dari pohonnya yang merambat di sebatang tiang beton setinggi 1,5 meter.

Buah naga yang selama ini hanya dikenal sebagai salah satu jenis buah-buahan untuk dikonsumsi masyarakat ternyata bisa dimanfaatkan sebagai kosmetik.



(Sumber : Medanbisnisdaily.com)

Beraneka Ragam Hasil Pengolahan Minyak Kelapa Sawit




Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.
“Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi,” tutur Muhammad Ahsan, didampingi Basseri, Sadam, Ibnu Asfari, Tarsius Arjoni, mahasiswa Pertanian Untan.
Bagian yang paling utama dari pohon kepala sawit adalah buahnya. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng.
Kelebihan minyak nabati dari kelapa sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak kelapa sawit juga dapat diolah menjadi bahan baku minyak alcohol, sabun, lilin, dan industri kosmetik.
Sisa pengolahan buah kelapa sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos. Tandan kosong dapat dimanfaatkan untuk tanaman kelapa sawit, sebagai bahan baku pembuatan pulp dan pelarut organik, dan tempurung kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan pembuatan arang aktif.
“Kelapa sawit mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya (seperti kacang kedelai, kacang tanah, dan lain-lain), sehingga harga produksi menjadi lebih ringan,” tuturnya.
Masa produksi kelapa sawit yang cukup panjang selama 22 tahun, juga turut memengaruhi ringannya biaya produksi yang dikeluarkan oleh pengusaha kelapa sawit. Apalagi jenis tanaman ini termasuk tanaman yang paling tahan hama dan penyakit dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya.
“Jika dilihat dari konsumsi per kapita minyak nabati dunia mencapai angka rata-rata 25 kg/th setiap orangnya. Kebutuhan ini akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya konsumsi per kapita,” yakinnya.
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur, berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu.
Tanah latosol, ultisol, dan aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai, dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit. Kelapa sawit jenis Dura biasa ditanam sebagai pohon induk dengan ciri-ciri daging buah tipis 20 hingga 65 persen, tebal tempurung 20 hingga 50 persen.

(Sumber : Theglobejournal.com)