Juni 14, 2013

Manisnya Stevia, Generasi Baru Pemanis

www.pemanisgulastevia.com 

Tanaman stevia (Stevia rebaudiana) merupakan tumbuhan herba dan semak dari keluarga Asteraceae. Tanaman ini banyak tumbuh di daerah Amerika Selatan ( Paraguay dan Brazil ), sehingga dikenal juga sebagai “ the sweet herb of Paraguay”. Salah satu komponen utama dalam stevia adalah stevioside. Tingkat kemanisan yang dimilikinya adalah sekitar 300 kali lebih manis dari sukrosa. Selain itu, rasa manis stevia memiliki karakteristik muncul lebih lama (slower onset), namun durasinya lebih lama (long duration). Pada konsentrasi yang tinggi, beberapa ekstrak stevia bisa menghasilkan after taste pahit atau licorice-like. Pada Tabel 1 berikut ini ditunjukkan komposisi zat gizi stevia per 100 gram (basis berat kering).
Tabel 1. Komposisi gizi stevia per 100 g (basis berat kering)
Komposisi
Satuan
Nilai
Proksimat :
- Kadar air
- Energi
- Protein
- Lemak
- Karbohidrat
- Kadar Abu
- Kadar serat

g
Kal
g
g
g
g
g

7
270
10
3
52
11
18
Mineral :
-  Kalsium
-  Fosfor
-  Besi
-  Sodium
-  Potasium

mg
mg
mg
mg
mg

464,4
11,4
55,3
190
1800
Faktor anti gizi :
-  Asam oksalat
-  Tanin

mg
mg

2295
0,01
Sumber : Savita et al. (2004)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Savita et al. (2004), energi yang terkandung dalam stevia adalah 2,7 Kal/gram, artinya stevia telah memenuhi syarat untuk diklaim sebagai pemanis rendah kalori, sebagaimana halnya acesulfame potassium (calorie free), aspartame (4 Kal/gram), sakarin (calorie free) dan sukralose (calorie free).

Stevia juga mengandung beberapa zat gizi penting lainnya seperti protein, lemak, serat dan karbohidrat, serta kandungan beberapa mineralnya yang juga sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Namun, pada stevia juga terdapat zat anti gizi seperti asam oksalat dan tanin yang dapat mengurangi bioavailabilitas kalsium, besi, dan beberapa zat gizi mikro lainnya.

Selain tingkat kemanisannya, penggunaan ekstrak stevia banyak menarik minat industri karena mulai berkembangnya tren pangan rendah gula/ karbohidrat. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa stevia memiliki pengaruh dalam mengurangi risiko obesitas dan tekanan darah tinggi. Hal ini dikarenakan stevia tidak berpengaruh terhadap kadar gula darah, sangat potensial untuk dijadikan pemanis alami, terutama bagi kalangan konsumen carbohydrate controlled diets. Berikut ini pada Tabel 2 menunjukkan karakteristik sifat fungsional pada stevia.
Tabel 2. Karakteristik bubuk daun stevia
Sifat
Nilai
Bulk density
0,443 g/ml
Kapasitas penyerapan air
4,7 ml/g
Kapasitas penyerapan lemak
4,5 ml/g
Nilai emulsifikasi
5 ml/g
Pengembangan (Swelling)
5,01 g/g
Kelarutan
0,365 g/g
pH
5,95
 Sumber : Savita et al. (2004)

Berdasarkan data pada Tabel 2 di atas, terlihat bahwa stevia memiliki nilai bulk density yang rendah sehingga tidak cocok untuk produk pasta yang pada umumnya membutuhkan densitas lebih tinggi untuk mengurangi thickness. Namun, stevia memiliki kapasitas penyerapan lemak yang cukup, dimana karakter ini sangat penting untuk memerangkap minyak sehingga dapat digunakan untuk mempertahankan flavor dan meningkatkan mouth feel produk.

Referensi : Majalah FOODREVIEW “ referensi industri dan teknologi pangan Indonesia “, Februari 2009, Vol. IV No.2, hal.40-41

Mei 17, 2013

Potensi Limbah CPO sebagai Pakan Ternak


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah (Kalteng) Panusunan Siregar mengatakan, limbah Crude Palm Oil (CPO) dapat meningkatkan produktivitas usaha petani ternak jika diolah menjadi pakan ternak

“Potensinya besar dan dapat meningkatkan usaha peternakan jika limbah tersebut menjadi pakan ternak seperti di China, Thailand, Vietnam, Pakistan dan beberapa negara lainnya” katanya saat ditemui diruang kerjanya di Palangka Raya, Rabu

Dia mengatakan, ampas CPO yang terdiri dari Palm Kernel Meal (PKM) dan Palm Kernel Cake (PKC) dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan itu sangat bermutu untuk memicu pertumbuhan ternak.

Ampas CPO tersebut merupakan bagian kulit luar dari buah kelapa sawit sehingga bisa memberi nilai tambah bagi pengembangan peternakan di daerah perkebunan dan pedesaan di wilayah Kalteng.

Dia mengatakan, limbah CPO sebetulnya sangat disukai ternak sapi dan babi. Hal ini banyak dimanfaatkan pemerintah di negara penghasil CPO seperti Malaysia dan Tahiland.

“Pemerintah belum melirik ampas CPO ini meski potensinya besar, apalagi sebagian besar masyarakat pedesaan di Kalteng mengembangkan usaha peternakan dan didukung pula perkembangan lahan perkebunan kelapa sawit cukup pesat,” katanya.

Ampas CPO yang dihasilkan perusahaan perkebunan terus meningkat. Hal ini dapat dilihat dari nilai ekspor komoditas yang menjanjikan. Selama tahun 2012, ekspor ampas CPO dari Kalteng mampu menembus angka 236.000 dolar Amerika Serikat.

Meski intensitas ekspor ampas CPO tidak berlangsung kontinyu, namun nilai ekspor jenis ini memberi gambaran bahwa potensinya masih dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai penunjang salah satu indikator ekonomi lokal.

Ekspor ampas CPO sejak Januari-Februari 2013 nilai menembus angka 860.000 dolar AS, atau sekitar Rp7,74 miliar. Angka ini akan terus melonjak mengikuti perkembangan nilai ekspor CPO yang terus mengalami peningkatan cukup signifikan.

Negara tujuan ekspor ampas CPO antara lain China, Vietnam, Thailand dan Pakistan. Di memprediksi, negara tujuan ekspor ampas CPO tersebut kemungkinan diolah dengan baik dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

“Jika limbah ini bisa diolah di sini, buat apa kita ekspor keluar negeri. Kita olah saja untuk menjadi peternakan sehingga suatu saat nanti Kalteng dapat menjadi swasembada daging ternak,” katanya.

Mei 15, 2013

Bahan Bakar Biofuel CPO sebagai Alternatif Kelangkaan Solar


Liputan6.com, Jakarta : Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi menyarankan kalangan industri untuk menggunakan bahan bakar minyak biofuel atau biodiesel dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai solusi dari kelangkaan solar yang saat ini terjadi.

Pemakaian CPO olahan tersebut juga akan membantu petani dan menopang volume penjualan komoditas tersebut menyusul kian melorotnya harga dan permintaan di pasar dunia. "Saya ingin mengajak industri, pakailah CPO atau PPO (processed palm oil)," kata dia, Jumat (26/4/2013).

Menurut Bayu, CPO bisa dipakai sebagai substitusi solar yang kian langka. Sebab dari sisi kapasitas produksi, CPO hampir setara dengan solar. Seperti 1 liter CPO olahan sama dengan 1 liter solar.

Demikian pula dari sisi kemampuan menjalankan mesin kalori yang terjadi juga mendekati solar. "Ya paling beda sedikit, 0,8-0,7. Kalau mau dibawa lebih objektif silahkan bawa ke yang ahli, katakanlah perbandingannya 1:0,99," jelas Bayu.

Dia menuturkan, harga CPO per liter juga hampir sama dengan solar nonsubsidi, sekitar Rp 9000 per liter. Industri bisa menggunakan bahan bakar ini untuk motor yang bukan sebagai alat transportasi.

Dia yakin usulan dari Kemendag ini bisa diterima kalangan industri. Sebab sudah ada beberapa industri yang menggunakan olahan CPO sebagai bahan bakar mesin produksinya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) selaku industri terkait juga sudah menyepakati usulan tersebut. "Udah kita rekomendasikan, itu sudah diputuskan sebenarnya untuk dipakai," ungkap Bayu.

Kalau pun ada pelaku industri yang bersikukuh menggunakan solar, karena perhitungan lebih efisien daripada menggunakan CPO, Bayu tidak ambil pusing dan mengembalikan ke masing-masing pelaku. "Ya silakan saja, sekarang kan yang jadi masalah solarnya langka," tukas dia.