Tampilkan postingan dengan label Minyak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minyak. Tampilkan semua postingan

November 02, 2012

Minyak Ikan Berpotensi Membantu Penderita Kanker


Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan oleh Jurnal Cancer mengungkapkan kemungkinan suplementasi minyak ikan yang kaya omega 3 dalam membantu penderita kanker mengatasi malnutrisi, yang sering terjadi pada saat kemoterapi. Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Vera Mazurak, dari Universitas of Alberta, Kanada, menguji  40 pasien dalam studinya. Sebanyak 16 pasien menerima suplementasi minyak ikan EPA (Eicosapentanoic Acid), dan sisanya memperoleh perlakuan standar (tanpa suplementasi). Pengujian terhadap otot skeletal dan jaringan adipose dilakukan dengan menggunakan gambar CT (Computed Tomography).
Pengumpulan sampel darah dan penimbangan berat badan dilakukan selama masa kemoterapi. Dari riset tersebut, pasien yang disuplementasi dengan 2,2 g EPA setiap harinya, mampu menjaga berat badan, massa otot, dan jaringan adipose selama 10 minggu menjalani kemoterapi. Sedangkan untuk pasien yang mendapat perlakuan standar, mengalami penurunan berat badan rata-rata mencapai 2,3 kg. Dr. Muzarak dan timnya juga menemukan, bahwa dari analisa terhadap sampel darah, pasien yang memiliki konsentrasi EPA tertinggi dalam darah ternyata memiliki massa otot yang paling besar. Mereka berpendapat bahwa EPA mempertahankan berat dan massa otot dengan cara menghalangi jalur penyebaran kanker.

Sumber : Majalah Food Review, vol. VI No.4 April 2011


September 24, 2012

MINYAK KELAPA SAWIT, SUMBER ENERGI TERBARUKAN


Minyak kelapa sawit diperoleh dari hasil pengolahan buah kelapa sawit segar dengan kandungan asam lemak yang bervariasi, baik dalam panjang maupun struktur rantai karbonnya. Panjang rantai karbon dalam minyak kelapa sawit berkisar antara atom karbon C12-C20. Komposisi asam lemak yang terkandung dalam minyak kelapa sawit sangat menentukan sifat fisik dan kimianya.

Tabel 1. Komposisi asam lemak minyak kelapa sawit
Asam Lemak
Jumlah (%)
Asam kaprilat
-
Asam kaproat
-
Asam miristat
0,9 – 1,5
Asam palmitat
41,8 – 46,8
Asam laurat
0,1 – 1,0
Asam stearat
4,2 – 5,1
Asam palmitoleat
0,1 – 0,3
Asam oleat
37,3 – 40,8
Asam linoleat
9,1 – 11,0
Sumber : Hui, 1996

Tabel 2. Sifat fisiko-kimia minyak kelapa sawit
Sifat
Jumlah
Bilangan Penyabunan (mg KOH/ mg minyak)
190,1 - 201,7
Bilangan iod (wijs)
50,6 - 55,1
Melting point  (0C)
31,1 - 37,6
Indeks refraksi (500C)
1,455 - 1,456
Sumber : Hui, 1996
Kelapa sawit merupakan sumber bahan baku penghasil minyak terefisien dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Salah satunya adalah sebagai bahan baku pembuatan bioenergi, yaitu biodiesel. Secara garis besar, minyak kelapa sawit dihasilkan dari pengolahan daging buah menjadi CPO (crude palm oil) dan pengolahan inti buah atau kernel yang menjadi PKO (palm kernel oil). 
Gambar 1. Buah sawit dan bagian-bagiannya
Produk-produk turunan minyak kelapa sawit yang dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel di antaranya CPO ( crude palm oil ) CPO low grade ( kandungan FFA tinggi ), PFAD, dan RBD olein. Sebelum diolah menjadi biodiesel, CPO membutuhkan proses pemurnian (Degumming) yang bertujuan untuk menghilangkan senyawa-senyawa pengotor yang terdapat dalam minyak, seperti gum dan fosfatida. Secara umum, proses pengolahan buah kelapa sawit menjadi CPO dan PKO ditnjukkan oleh gambar berikut.

Gambar 2. Diagram alir pengolahan minyak sawit



Gambar 3. Diagram alir pengolahan minyak menjadi biodiesel
Di Indonesia sendiri, perkebunan kelapa sawit sudah dikembangkan dalam skala besar dan saat ini Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor minyak kelapa sawit terbesar. Oleh sebab itu, minyak kelapa sawit ini sangat prospektif untuk dikembangkan menjadi bioenergi karena pasokan untuk bahan baku pembuatan biodiesel tersedia dengan cukup banyak di Indonesia.

Juni 24, 2012

Minyak Atsiri


Minyak atsiri atau biasanya juga disebut minyak terbang (volatile oil) atau minyak eteris (Essensial oil) merupakan salah satu sisa proses metabolisme dalam tanaman, disintesa dalam kelenjar (glandular cell) jaringan tanaman. Sumber minyak atsiri pada tanaman, di antaranya:
·                Daun
·                Buah atau kulit buah
·                Akar atau rhizome
·                Batang atau kulit batang
·                Bunga
Sifat Fisik  (Guenther, 1987)
·                Berbau wangi sesuai aroma tanaman  penghasilnya
·                Mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi
·                Mempunyai rasa getir (pungent taste)
·                Umumnya larut dalam pelarut organik (alkohol, eter, petroleum, benzena dll.)
·                Tidak larut dalam air
Sifat Kimia Minyak Atsiri
1.             Komposisi kimia minyak atsiri bervariasi tergantung pada :
·  Tanaman penghasil
·  Kondisi iklim
·  Tanah tempat tumbuh
·  Umur panen
·  Metoda ekstraksi
·  Cara penyimpanan minyak
2.             Komponen kimia secara umum:
a.              Golongan hidrokarbon (monoterpen, sesquiterpen, diterpen,  politerpen, parafin, olefin, hidrokarbon aromatik)
b.             Oxygenated hydrocarbon
· Persenyawaan alkohol (contoh: geraniol, nerol, eugenol, vanillin)
· Aldehida (contoh: sitral, sitronelal, sinnamaldehida)
· Keton (contoh: fenchone, camphore, carvone, menthone)
· Ester (ester-ester dari asam asetat, butirat, salisilat, benzoat)
· Ether (contoh: anethole, safrole, eucalyptole)

Produksi Minyak Atsiri
Beberapa cara yang sering dilakukan dalam produksi minyak atsiri, yaitu dengan cara penyulingan, ekstraksi dengan pelarut, dan pengempaan. Penyulingan dilakukan dengan tujuan memperoleh minyak atsiri dari tanaman aromatik yang mempunyai kandungan minyak atsiri yang sulit untuk diekstrak pada kondisi lingkungan normal.

Faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses penyulingan :
1.      Jenis dan penanganan bahan baku yang akan disuling
2.      Jenis, distribusi dan debit uap yang digunakan
3.      Bahan penyusun ketel penyulingan
4.      Dimensi alat penyuling
5.      Metode penyulingan yang digunakan

Sistem Penyulingan
Penyulingan adalah suatu proses pemisahan secara fisik suatu campuran dua atau lebih produk yang mempunyai titik didih yang berbeda, dengan cara mendidihkan terlebih dahulu komponen yang mempunyai titik didih rendah terpisah dari campuran.
Metode penyulingan minyak atsiri :
1.             Penyulingan dengan air (water distillation)
2.             Penyulingan dengan uap dan air (steam and water distillation)
3.             Penyulingan dengan uap langsung (steam distillation)

Beberapa jenis tanaman yang berpotensi sebagai penghasil minyak atsiri di Indonesia :
  • Nilam
  • Kayu Putih
  • Minyak Sereh Wangi
  • Minyak Ylang-Ylang
  • Minyak Pala
  • Kayu Manis
  • Akar Wangi
  • Minyak Jahe    



Juni 21, 2012

Potensi Minyak Kelapa Sebagai Pengawet


Sebuah studi dari Cina memberikan secercah sinar bagi pengembangan minyak kelapa sebagai pengawet. Salah satu produk turunannya adalah monolaurin yang merupakan gliserol monoester dari asam laurat terindikasi memiliki potensi untuk digunakan sebagai pengawet.
Sebenarnya komponen tersebut telah dikategorikan sebagai GRAS (Generally Recognised as Safe) di Amerika Serikat sejak 1960, tetapi penggunaanya dalam industri pangan masih terbatas.  Benzoat, sorbat dan nitrit masih lebih umum digunakan.
Salah satu keterbatasan penggunaan monolaurin pada produk pangan adalah apabila digunakan lebih dari 500 µg/ml dapat menghasilkan aroma dan rasa “soapy” yang akan mempengaruhi penerimaan konsumen. Walau demikian, tim peneliti dari Zhejiang University berusaha untuk terus mengeksplorasi potensi monolaurin. Dalam penelitian tersebut monolaurin juga diuji dengan komponen lainnya, yaitu nisin, sodium laktat, sodium dehydroacetate, calcium propionate, dan EDTA. Sedangkan patogen yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah E. coli, S. aureus, dan Bacillus subtilis.
Dalam penelitiannya yang dipublikasikan oleh Journal of Food Science, diketahui bahwa konsentrasi minimum monolaurin untuk menghambat pertumbuhan E. coli adalah 25 µg/ml, 12,5 µg/ml untuk menghambat S. aureus, dan 30 µg/ml untk menghambat Bacillus subtilis.
Ketika dikombinasikan dengan nisin, ternyata komponen ini berpengaruh terhadap penghambatan ketiga jenis bakteri tersebut. EDTA hanya berpengaruh terhadap penghambatan E. coli dan Bacillus subtilis. Sedangkan sodium laktat dan kalsium propionat tidak berpengaruh apa pun.
Tim peneliti kemudian juga berusaha mengetahui mekanisme dari monolaurin tersebut, termasuk pengaruh komposisi produk pangan. Dan hasilnya, ternyata keefektifan komponen tersebut akan menurun oleh keberadaan lemak dan pati.

Sumber : Majalah FoodReview (Referensi Industri dan Teknologi Pangan Indonesia : Vol. IV, No. 12/hal 10)