Maret 16, 2013

Tidak Semua Pangan Organik Lebih Sehat


Seiring dengan meluasnya sosialisasi tentang kesehatan dan kandungan gizi yang terkandung pada pangan organik, popularitas pangan organik pun turut meningkat di kalangan masyarakat. Masyarakat pun mulai banyak yang beralih ke pangan organik untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Namun, para ahli menjelaskan dengan sudut pandang berbeda. Menurut ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor Ali Khomsan, istilah organik kini digunakan secara terbatas untuk produk-produk tanaman yang hanya sedikit/tidak menggunakan pestisida dan pupuk buatan.
Pertanian organik lebih sering dikaitkan dengan pupuk kandang, kompos dan pestisida alami. Merujuk pada peraturan Departemen Pertanian Amerika Serikat, pangan yang dijual di pasaran boleh mengklaim diproduksi secara organik apabila sedikitnya 50 persen bahan penyusunnya diproduksi secara organik.
Sedangkan, untuk pangan kemasan dipersyaratkan 95 persen bahannya dihasilkan melalui pertanian organik. Pangan kemasan itu juga tidak boleh mengandung nitrat, nitrit dan sulfit.
"Peraturan-peraturan tersebut belum seketat itu diterapkan di Asia," ujar Ali.
Meski semakin populer, Ali menyatakan belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pangan yang dihasilkan dari pertanian organik itu lebih sehat, lebih bergizi dan lebih aman.
Mengutip pernyataan beberapa pakar lainnya, ia mengatakan jika pangan organik mempunyai kandungan gizi dan tingkat keamanan pangan yang relatif sama dengan pangan konvensional lainnya.
"Malah ada yang mengkhawatirkan dari penggunaan pupuk kandang, yakni kemungkinan kontaminasi bakteri yang mungkin terjadi pada produk pangan organik. Sebuah penelitian di University of Georgia menunjukkan bahwa pangan organik sedikit lebih besar peluangnya untuk tercemar E.coli, bakteri yang sering menyebabkan sakit perut,” terangnya.
Dengan fakta tersebut, Ali menyatakan bahwa keuntungan paling utama mengonsumsi bahan pangan organik adalah ramah terhadap lingkungan. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang merusak lingkungan bisa ditanggulangi.
Namun, jika petani menggunakan pestisida dan pupuk secara terkontrol, proses produksi yang dilakukan tetap akan ramah terhadap lingkungan. Hal ini yang sering luput dari perhatian petani yang berasal dari negara-negara berkembang, seperti Indonesia.
Jika demikian, konsumsi bahan pangan konvensional pada dasarnya tetap berdampak baik pada kesehatan. Residu pestisida yang tertinggal pada bahan pangan nonorganik itu bisa ditangani jika dibersihkan dengan baik sebelum diolah dan dikonsumsi. Meski demikian, pilihan akhir tetap berada di tangan konsumen.
"Kalau toh pangan organik tidak lebih bergizi dan tidak lebih aman daripada pangan konvensional, tetapi mungkin ada di antara mereka yang merasakan bahwa pangan organik lebih enak. Atau mereka ingin menunjukkan kepada lingkungan sekitarnya tentang gaya hidup baru dengan hanya mengkonsumsi pangan organik," tukasnya.

Sumber : http://www.metrotvnews.com


Mahasiswa IPB Ciptakan Inovasi Nasi Goreng Buah


Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor dengan diketuai oleh Zaenal Abidin menciptakan inovasi di bidang kuliner. Inovasi itu lahir dalam bentuk "nasi goreng buah".
"Keistimewaan nasi goreng buah ini adalah rasa yang khas dari sari dan potongan buah-buah seperti nanas, melon, kedondong dan buah-buahan lain," katanya di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (9/3/2013).
Ia menjelaskan, buah-buahan yang dipergunakan masih dalam kondisi segar sehingga rasa dan gizinya masih tetap terjaga. Mengenai proses pembuatan "nasi goreng buah", kata dia, seperti pada umumnya membuat nasi goreng.
Hanya saja, katanya, saat penumisan bumbu dimasukkan sari buah dan potongan buah sesuai keinginan konsumen. Ia menjelaskan, kegiatan inovatif yang merupakan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirusahaan (PKMK) itu mendapat bantuan modal awal dari pemerintah sekitar Rp 6 juta.
Di bawah bimbingan staf pengajar IPB Dr Dinamella Wahjuningrum usaha tersebut ternyata mendapat sambutan hangat para konsumen, yang berada di sekitar kampus.
Menurut Zaenal Abidin, selama program dijalankan hingga selesai, usaha "nasi goreng buah" telah menjadi sebuah usaha komersiil yang mampu memberikan keuntungan secara finansial. "Dan merupakan usaha kuliner unik yang disukai masyarakat sekitar kampus," katanya menambahkan.
Ia mengatakan, usaha itu memberikan kepuasaan dalam harga, rasa dan pelayanan yang terbukti dari hasil kuesioner yang mereka sebarkan. Hasil kuesioner menunjukkan sebanyak 84 persen konsumen manyatakan belum pernah mengenal nasi goreng buah.
Kemudian, sebanyak 97 persen harga terjangkau, dan 85 persen menyatakan rasanya enak. Sedangkan sebanyak 95 persen kemasan yang dibuat menarik dan 95 persen pelayanannya memuaskan.
Zaenal dan kawan-kawan menyatakan usaha itu sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk melatih jiwa berwirausaha. Ia mengatakan, penerimaan usaha selama kegiatan berlangsung mendapatkan keuntungan Rp 743 ribu.
Kepala Humas IPB Ir Henny Windarti, MS.i menambahkan bahwa melalui PKMK mahasiswa ditantang untuk melahirkan inovasi-inovasi sesuai bidang yang ditekuninya. "Dengan demikian mahasiswa IPB tidak pernah kehabisan akal untuk berinovasi membuat usaha berbahan baku komoditas pertanian," kata Henny Windarti.
http://edukasi.kompas.com



Februari 06, 2013

Candi Muara Takus



Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Buddha yang terletak di di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, Riau. Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatera, merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini.

Foto tampak atas
Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berbeda dengan candi yang ada di Jawa, yang dibuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan. Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai, terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus. Nama Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Cina, Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat bermaksud lubang tanah, yang diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang. Namun dalam Bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip dengan Pangkali yang dapat berarti sungai, dan situs candi ini memang terletak pada tepian sungai.
Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar, berbentuk menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning. Di dalam situs Candi Muara Takus ini terdapat bangunan candi yang disebut dengan Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka. Selain bangunan tersebut di dalam komplek candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia.

Candi Mahligai
Candi Mahligai atau Stupa Mahligai, merupakan bangunan candi yang dianggap paling utuh. Bangunan ini terbagi atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Stupa ini memiliki pondasi berdenah persegi panjang dan berukuran 9,44 m x 10,6 m, serta memiliki 28 sisi yang mengelilingi alas candi dengan pintu masuk berada di sebelah Selatan. Pada bagian alas tersebut terdapat ornamen lotus ganda, dan di bagian tengahnya berdiri bangunan menara silindrik dengan 36 sisi berbentuk kelopak bunga pada bagian dasarnya. Bagian atas dari bangunan ini berbentuk lingkaran. Menurut Snitger, dahulu pada ke-empat sudut pondasi terdapat 4 arca singa dalam posisi duduk yang terbuat dari batu andesit. Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yzerman, dahulu bagian puncak menara terdapat batu dengan lukisan daun oval dan relief-relief sekelilingnya. Bangunan ini diduga mengalami dua tahap pembangunan. Dugaan in didasarkan pada kenyataan bahwa di dalam kaki bangunan yang sekarang terdapat profil kaki bangunan lama sebelum bangunan diperbesar.

Candi Tua
Candi Tua atau Candi Sulung merupakan bangunan terbesar di antara bangunan lainnya di dalam situs Candi Muara Takus. Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki terbagi dua. Ukuran kaki pertama tingginya 2,37 m sedangkan yang kedua mempunyai ketinggian 1,98 m. Tangga masuk terdapat di sisi Barat dan sisi Timur yang didekorasi dengan arca singa. Lebar masing-masing tangga 3,08 m dan 4 m. Dilihat dari sisa bangunan bagian dasar mempunyai bentuk lingkaran dengan garis tengah ± 7 m dan tinggi 2,50 m. Ukuran pondasi bangunan candi ini adalah 31,65 m x 20,20 m. Pondasi candi ini memiliki 36 sisi yang mengelilingi bagian dasar. Bagian atas dari bangunan ini adalah bundaran. Tidak ada ruang kosong sama sekali di bagian dalam Candi Sulung. Bangunan terbuat dari susunan bata dengan tambahan batu pasir yang hanya digunakan untuk membuat sudut-sudut bangunan, pilaster-pilaster, dan pelipit-pelipit pembatas perbingkaian bawah kaki candi dengan tubuh kaki serta pembatas tubuh kaki dengan perbingkaian atas kaki. Berdasarkan penelitian tahun 1983 diketahui bahwa candi ini paling tidak telah mengalami dua tahap pembangunan. Indikasi mengenai hal ini dapat dilihat dari adanya profil bangunan yang tertutup oleh dinding lain yang bentuk profilnya berbeda.

Candi Bungsu
Candi Bungsu bentuknya tidak jauh beda dengan Candi Sulung. Hanya saja pada bagian atas berbentuk segi empat. Ia berdiri di sebelah barat Candi Mahligai dengan ukuran 13,20 x 16,20 meter. Di sebelah timur terdapat stupa-stupa kecil serta terdapat sebuah tangga yang terbuat dari batu putih. Bagian pondasi bangunan memiliki 20 sisi, dengan sebuah bidang di atasnya. Pada bidang tersebut terdapat teratai. Penelitian yang dilakukan oleh Yzerman, berhasil menemukan sebuah lubang di pinggiran padmasana stupa yang di dalamnya terdapat tanah dan abu. Dalam tanah tersebut didapatkan tiga keping potongan emas dan satu keping lagi terdapat di dasar lubang, yang digores dengan gambar-gambar tricula dan tiga huruf Nagari. Di bawah lubang, ditemukan sepotong batu persegi yang pada sisi bawahnya ternyata digores dengan gambar tricula dan sembilan buah huruf. Bangunan ini dibagi menjadi dua bagian menurut jenis bahan yang digunakan. Kurang lebih separuh bangunan bagian Utara terbuat dari batu pasir, sedangkan separuh bangunan bagian selatan terbuat dari bata. Batas antara kedua bagian tersebut mengikuti bentuk profil bangunan yang terbuat dari batu pasir. Hal ini menunjukkan bahwa bagian bangunan yang terbuat dari batu pasir telah selesai dibangun kemudian ditambahkan bagian bangunan yang terbuat dari bata.

Candi Palangka
Bangunan candi ini terletak di sisi timur Stupa Mahligai dengan ukuran tubuh candi 5,10 m x 5,7 m dengan tinggi sekitar dua meter. Candi ini terbuat dari batu bata, dan memiliki pintu masuk yang menghadap ke arah utara. Candi Palangka pada masa lampau diduga digunakan sebagai altar.




                 http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Muara_Takus